Maka syukur semestinya terucap jika saya berjumpa dengan beliau. Selalu saja ada hikmah terekam dalam setiap cakap. Seperti siang ini. Sekedar mendengar celotehan tentang tempat kerja baru saya, semua ini berawal. Terlalu semangat saya berceloteh hingga beliau yang tadinya berdiri akhirnya duduk di depan saya. Hehehe...
Nada dering sms beliau menyela pembicaraan kami. Senyum terukir di bibir beliau setelah membaca sms tadi. "Jadikanlah hari ini yang terbaik, rugi jika sudah meninggalkan keluarga sampai sore tapi hasilnya bukanlah yang terbaik...”, kata beliau. “Saya selalu sms ke suami. Sms motivasi...”, “kapan Bu kasihnya? Tadi pagi?” tanya saya. “tidak, kalau pagi nanti lupa beliau. Sms-nya siang gini, biar inget...kalau beliau sms-nya sms tausiyah,” kata beliau sambil tertawa simpul. “Gimana Bu bunyi smsnya, saya tulis disini ya, “ ijin saya. “Manggilnya gimana? Mas gitu ya? “tanya saya sambil senyum. Saya ingat cara beliau memanggil suaminya. “Iya...” sahut beliau. Saya acungkan kedua jempol saya pada beliau sambil berkata, “hebat Bu, jarang lho yang sms begitu, bisa jadi smsnya pesan minta dibelikan sesuatu yang membebani suami kerja,”. “Iya...diakhir sms saya selipi do’a, semoga Allah meridhoi kita, beliau itu rajin tidak seperti saya", jelas beliau.
Dan inilah sms beliau,
“ Mas... Jadikanlah hari ini sebagai amalan terbaik, rugi jika sudah meninggalkan keluarga sampai sore tapi hasilnya bukanlah yang terbaik, semoga Allah meridhoi usaha kita".
Romantis ya...[ups, jadi pingin sms...saya kan juga suka banget sms]. Dulu...sore hari, “Dik, minta dibelikan apa?” sms suami beliau. “Tidak usah beli apa-apa, Mas pulang dengan selamat saja sudah Alhamdulillah...”
Suami istri selayaknya pakaian, begitu Al Qur’an mengkiaskan. Suami pakaian istri demikian pula sebaliknya. Pakaian tuk menutupi aurat [sesuai syariat tentunya], menjadikan indah pandangan mata. Indah dalam pandangan mata pasangan juga sedap dipandang orang lain. Saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Seperti halnya suami-istri dalam tulisan ini. Semoga Allah memudahkan saya dalam mengambil setiap hikmah dari orang-orang di sekitar saya. Aamiiin
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah...” [QS Al Jumu’ah : 10]
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya...” [QS Hud : 6]
Bertebaran dimuka bumi mencari karunia Allah sebagai wujud ikhtiar menjemput rizeki Allah. Rizeki yang Allah berikan untuk setiap makhluk-Nya. Tinggal kita mau menjemputnya atau tidak. Kamis, 30 Desember 2010 semestinya saya juga menjemput rizeki yang sudah pasti. Syaratnya sederhana saja, menghadiri rapat akhir tahun, maka tanda tangan kehadiran akan membuahkan uang minimal uang transport, makan siang [bisa jadi dapat bingkisan pula...]. Hari sebelumnya saya diberitahu teman bahwa undangan di meja kantor, dan saya berniat menghadiri acara tersebut berikut deretan acara yang akan saya lakukan setelahnya. Dengan rencana matang dan perkiraan sampai rumah sebelum maghrib atau jika kesorean agenda maghrib di masjid ketandan saja.
Prepare kostum sejak jam 5 wib sambil dengerin MQ Pagi. Session pertama Aa’ Gym dengan tema sedikit nyerempet-nyerempet final AFF semalam. Bahwa sebenarnya jika kita berhasil menjebol gawang lawan dengan gol, semestinya kita minta maaf [hehe...ada-ada saja]. Bahwa yang menang itu bukanlah yang unggul dalam mencetak gol, tapi yang menang adalah yang lebih sholeh. bahwa bisa jadi yang ada di stadion ‘ashar terlepas, maghrib terlewat, ‘isya sudah kelelahan. Saya berhenti menulis karena tiba-tiba saya melihat hitam-hitam bergerak. Astaghfirullah...Ular!! Sedang apa engkau di depanku? Menjemput rizeki atau menjemput maut? Sudah saatnya engkau menghadap Illahi, wahai ular!!! Alhamdulillah...insiden terlewat sudah.
“Haiii....” sapaan 2 kakak beradik berseragam SD Muh. Purwanggan yang tiba-tiba muncul di pintu kantor. Keheningan kami terusik. Serempak kami melihat pintu. Sang ayah langsung menjawab “wa’alaykumsalam”. Kedua kakak beradik tersenyum sambil menghampiri sang ayah. “Lho kok ra salim” sapa sang ayah kemudian diikuti uluran tangan sang anak menyalami teman-teman kantor yang putra. Melihat muka keduanya merah padam saya ikut nimbrung,”sampai sini naik apa le” (panggilan jawa untuk anak laki-laki-Red). “naik bis” jawab sang kakak sambil melihatku. “terus kesininya?” “jalan kaki..” Subhanallah.
Melepas baju atasan dan ternyata di dalamnya mereka memakai kaos sambil berkata,”panas..panas”. Oh,.pasti panas! Tengah hari gini dengan cuaca cerah di Jogja, siang ini. Naik bus kota jalur 15 dari jl KH Ahmad Dahlan-Jl Godean 15an menit selanjutnya berjalan kaki 300an m tentu membuatmu kepanasan Nak. Kakak-beradik, SD kelas 2 dan 4, bukan tipe bongsor... kalian pemberani Nak. Tapi ...begitulah anak-anak. Merah padam, berkeringat tak membuat mereka kecapekan. Melihat sang ayah serius di depan laptopnya mereka hanya melongok monitor, terus ngeloyor keluar setelah sang adik bilang,’’iki lho mas..iki lho mas’’. Di luar mereka melihat pekerja-pekerja sedang membetulkan saluran air. Masuk lagi ke dalam kantor langsung duduk di depan computer, kebetulan tak terpakai. Sang ayah meninggalkan laptopnya entah kemana. Sang kakak langsung menduduki kursi sang ayah. Penguasa berganti. ’’iki lho mas..iki lho mas’’ sang adik berkata lagi. Sang kakak mendekati adik. Entah apa kesibukan mereka. Saya juga sibuk nulis ini. Oh..terlihat sang kakak kembali ke kursi sang ayah. ’’iki lho mas..’’ masih ditempat yang sama sang kakak mengomando sang adik apa yang harus dilakukan. Mereka sibuk di depan monitornya masing-masing. Game online.
Sebenarnya aktivitas ini biasa saya lihat. Sang ayah biasa menjemput kedua putranya sepulang sekolah dan dibawa ke kantor. Mereka melakukan apa pun yang mereka suka, badminton, game online, bermain, beli makanan di koperasi tentu saja bonnya mereka tulis di buku ayah mereka[sepertinya ini mendidik berhutang..hehe]. Atau entah apa lagi yang mereka lakukan tanpa mengganggu kami sampai sang ayah selesai bekerja. Hmmm...ini rumah keduamu ya Nak. Mereka biasa diajak pulang hingga jam 16an. Sebenarnya aktivitas ini biasa saya lihat. Sang ayah lain ataupun sang ibu menjemput anak-anak mereka mulai dari pukul 13 hingga pukul 15 dan... membawa mereka di sini. Adakalanya.
Saya jadi teringat ketika kuliah dulu. Kedua putra salah satu dosen setiap pulang sekolah pulangnya ke kampus. Dari ketika seragam sekolah merah-putih menjadi biru-putih, biru-putih menjadi abu-abu putih. Sekarang tak berseragam...bisa jadi. Kampus rumah kedua bagi mereka. Makan siang, belajar dan entah apa yang mereka lakukan di ruang ayahnya. Tentu saja mereka tak mengganggu aktivitas ayahnya karena sang ayah memiliki dua ruang di gedung berbeda. Bahkan pernah kami melihat mereka pulang pukul 16an dan...lho? kok istri beliau juga pulang dari sini?padahal beliau kan tidak kerja disini? Begitu dulu kami terheran-heran.
Saya jadi teringat Ghozian Adlan (3 tahunan) ponakan. Sekolah play guk pesantren dekat sekolah mama kata dia. Sayang Samarinda tak seperti Jogja, dimana play group bisa sampai pukul 15. Jika mbak saya ngajar sore maka Ghozi pun ikut masuk kelas karena dia harus dijemput pukul 11 wita. Saya sempat nanya,”Ghozi ganggu ga mbak?’’ Mbak bilang tidak. Hanya saja Ghozi memiliki sifat penolong jadi ketika tulisan di papan sudah penuh Ghozi akan siap menghapus, ‘Ghozi aj ma’ kata dia ke mamanya dan akan bilang ke siswa, ini sudah Kak? J kacau.
Saya jadi teringat, ketika harus menemani bapak menginap beberapa hari di PKU. Shift pagi pukul 7-14 wib. Dari teras Multazam terhubung tangga menuju lantai 3 dan lantai 1. Macam tangga khusus karena tangga ini akan sibuk, bapak-bapak maupun ibu-ibu berseragam, hilir mudik menjelang pukul 7 dan setelah pukul 14an. Ada apa gerangan dilantai atas? Mengapa mereka membawa anak-anak dari yang masih dalam gendongan berbekal dot hingga anak-anak usia 3-4 tahunan ke rumah sakit? Mengapa pula ujung tangga lantai atas tertutup macam pagar? Hingga...beberapa hari berikutnya pertanyaan dalam benak saya terjawab. Ketika saya duduk di samping tangga dan kebetulan ada salah satu pegawai turun mengandeng anaknya saya menyapa sambil tersenyum, “lantai atas ada playgroupnya ya?” ‘iya, juga penitipan’ “oya? Masya Allah!” I like this. Salah satu rumah sakit swasta ternama di Jogja menyisihkan salah satu lantainya untuk playgroup dan penitipan bagi karyawannya. Apa mereka mengganggu kerja orang tuanya? Tentu saja tidak. Pernah terlihat oleh saya anak-anak berjalan-berlari dengan santainya di lantai bawah pukul 14an. Sang ayah hanya bertanya “mau kemana?” membiarkan sang anak berekspresi. Hmmm...ini rumah keduamu ya Nak.
Dan kini...ada yang sempat mencair dari pikiran yang lama sudah mengendap. Instansi yang menyelaraskan kewajiban untuk umum dan kewajiban untuk keluarga adalah idealita. Ada yang perlu direncanakan dengan matang ketika wanita memutuskan untuk berdaya bagi sesama dalam suatu instansi. Harus ada kerja ekstra menyelaraskan berbagai amanah. Diperlukan tim work yang saling bersinergi dalam pemberdayaan ini. Dan kini...disini, di tempat kita sendiri, sudah banyak fasilitas yang memudahkan Anda.
Pemilihan sekolah untuk anak macam teman kantor saya yang mengharuskan mereka berangkat pukul 6 karena berjarak puluhan kilometer, memang menyebabkan kemacetan semua jalur arah kota Jogja pagi hari. Tak terbayang pula ribetnya ngantor pukul 7 dengan mengendong bayi. Mana pula balita-balita itu masih tidur diboncengan dengan pakaian seragam. Tetapi lihatlah...bukankah itu membuat anak-anak tetap dekat dengan orang tua mereka. Tanpa terlihat mengekang dunia mereka karena mereka berhasil mencipta dunia mereka sendiri, disini...di dekat ayah-bunda. Ini yang namanya berjuang Nak...
Duniamu dimana Nak? Rasulullah akan bangga dengan jumlah kita yang banyak dan kompeten tentu saja. Dan ini sudah kita awali sedari kecil dulu, ketika kita sudah mampu melakukan pilihan. Ya...kita sudah mampu menentukan pilihan sejak kita lahir. Minimal memilih minuman dan makanan yang kita inginkan. Hingga... kita menjadi anak-anak. Kita mampu memilih baju, sepatu, teman dan tentu saja sekolah yang membuat kita nyaman. Kita memilih dunia kita. Orang tua kita memang tidak memutuskan pilihan dunia kita tetapi orang tua kita mengontrol arah dari pilihan dunia kita. Dan kini...dunia kita sudah terbentuk menuju kompetensi yang membaik setiap harinya.
Lantas...bagaimana dengan dunia anak kita?
Duniamu dimana Nak? Inilah yang mesti Anda rancang, bagi Anda yang sudah menikah dan memiliki anak, bagi Anda yang sudah menikah dan akan memiliki anak, bagi Anda yang baru menikah, bagi Anda yang berniat menikah, bagi Anda yang merancang pernikahan, bagi kita pengukir sejarah. Duniamu Nak...yang bisa kami lihat setiap saat yang mendukung keberdayaan kami, dan mendukung pertumbuhanmu dengan sehat. Jika pesan Rasulullah ajarilah anakmu berkuda, berenang dan memanah...maka akan nyunnah kita dengan poin plus saat mengajari anak-anak kita berenang, berkuda [kuda hidup dan kuda besi], memanah [menembak apa lagi dengan peluru kendali...]. Ya! Bisa jadi kita memfasilitasi sendiri. Tetapi kita ketika kita tidak mampu, kita bisa memanfaatkan fasilitas yang dipastikan ada di dekat kita. Memberdayakan sesama. Pilihlah duniamu Nak...dekat ayah bunda dengan semua fasilitas yang mengajarimu lebih mengenal Rabb-mu juga Rasul-mu.
Mungkin...kita perlu meneladani do’a Ibnu Jauzy, “Ya Rabb-ku, wujudkanlah cita-citaku dalam hal ilmu dan amal. Berilah umur yang panjang agar aku mencapai yang aku inginkan.”
Calon jama’ah haji Indonesia mulai di berangkatkan menuju Saudi. Membaca rekap jumlah calon jama’ah haji sampai dengan Senin, 6-9-2010 pukul 15.00 wib, membuat saya merenung panjang. Agak bingung sebenarnya. Mesti bersyukur akan kesadaran tinggi masyarakatuntuk ber-haji atau ikut berharap-harap cemas masuk “waiting list”. Berikut laporan yang saya baca ;
No
wilayah
Waiting list
1
2
3
4
5
Kota Yogyakarta
Kabupaten Bantul
Kabupaten Sleman
Kabupaten Gunungkidul
Kabupaten Kulon Progo
Jumlah
2.574
4.143
5.849
1.543
1.404
15.513
Jumlah setoran awal saat ini :
A.Kuota DIY Tahun 2011: 3.068
B.Kuota DIY Tahun 2012: 3.068
C.Kuota DIY Tahun 2013: 3.068
D.Kuota DIY Tahun 2014: 3.068
E.Kuota DIY Tahun 2015: 3.068
F.Kuota DIY Tahun 2016: 173 sisa 2.895
Luar biasa!! Waiting list 6 tahun ke depan dengan catatan setor sekarang, atau beralih ke ONH Plus saja ya... kalkulasi kantong dulu : taruhlah saya menabung tiap hari Rp. 10.000,00 maka satu tahun uang yang dapat saya kumpulkan 30 x 12 x Rp. 10.000,00 = Rp. 3.600.000,00. Untuk bisa masuk waiting list mesti punya uang Rp. 20.500.000,00, berarti saya baru bisa daftar setelah nabung tiap hari Rp. 10.000,00 selama 5, 7 tahun. Hmmm... 5 tahun kedepan jika masih waiting list 6 tahunan berarti saya diberangkatkan 11, 7 tahun lagi. Umur saya berapa ya saat itu? Perjuangan yang panjang. Pertanyaan pikiran saya berikutnya “apa saya diberi kesempatan hidup sampai saat itu?”
Semoga saja mereka yang telah diberi Allah kesempatan berangkat sekarang benar-benar memanfaatkan momen ini dengan penuh lillahi ta’ala. Semoga saja mereka yang telah ber-haji sekali memendam rasa untuk ber-haji ke sekian kalinya dengan bahasa permintaan : mohon beri kesempatan yang lainnya. Apa pun itu jika Allah sudah menetapkan tak seorang pun mampu menghindar. Ya Allah....tetapkanlah kebaikan dimanapun kami berada dan jadikanlah kami ridho menerimanya.
Tulisan di atas adalah sms yang masuk ke inboxku, di kirim 27-02-2010 pukul 22:20 WIB dari +62521786xxxx, membuatku terbangun dari tidur. Nomor hp yang belum terdaftar dalam phone book, jadi kuputuskan untuk tidak membalasnya. Antara kantuk yang ada, sempat kubaca sms itu dengan seksama, hatiku bergetar. Subhanalloh, semoga Engkau memasukkanku ke dalam golongan hamba muslimah-Mu ya Alloh.
Paginya, seorang akhwat yang cukup baik aku mengenalnya, sms memberitahukan bahwa beliau lah yang mengirim sms tadi malam tetapi dengan nomor lainnya. Luar biasa! Sempurna! Kembali aku baca isi sms itu. Muslimah itu anugerah terindah dunia, yang lembut, tidak lemah, tetap bersahaja, tahu bagaimana menjaga izzah, mengerti bagaimana akhlaq dan kemuliaannya itulah yang membuat dia istimewa dibandingkan dengan wanita lain. Ilmu yang dia dalami semestinya mampu menjadi permata terindah di dunia.
Muslimah, keistimewaan akhlaqmu mendamaikan kegelisahan setiap orang yang ada didekatmu..senyummu melelehkan hati yang membatu, mencerahkan mereka yang gundah. Ilmumu memecahkan masalah dengan bijak. Hmmm.....permata terindah di dunia, menyedapkan pandangan bagi dirinya juga semua yang ada disekitarnya, memberi nilai lebih bagi lingkungan. Muslimah...dengan melihatmu, orang jadi mengingat Allah. Mendengar kata-katamu, bertambah taqwa kami pada Allah. Melihat akhlakmu...kami melihat keindahan Islam.
Lantas untuk menggapai status muslimah seperti isi sms itu yang kemudian terpikir olehku. Semudah berbicarakah? Atau semudah ketika huruf demi huruf sms itu dibuat. Membuat sms berbobot kemudian men-share ke orang lain tidaklah mudah bagiku.
Untuk menyandang gelar muslimah pastilah harus memiliki syarat-syarat tertentu. Hmmm.... bersambung Anugerah terindah, engkau wahai muslimah part 2*)
Allah gives you two legs to walk, two hands to hold, two eyes to see, two ears to hear, two lungs to breath, but...why did Allah just give you one heart? Coz Allah want you to keep just Allah in your heart..
Kalimat ini aku sms-kan ke beberapa sahabat yang lama tak jumpa. Banyak diantaranya yang no coment atas sms-sms-ku. Tapi satu diantaranya selalu memberi reaksi yang sering tak terduga.
Do you agree?
Do you agree? Itulah reaksi yang dia berikan atas smsku. Hmmm...itu kan sms dariku, mengapa dia malah bertanya do you agree?
I think so... but I can’t do it anytimes.. just trying
Akhirnya aku jawab begitu..selalu mencoba untuk lebih baik dalam penyadaran diri. Seperti yang di sampaikan Rosululloh “hari ini lebih baik dari pada kemarin” maka esuk hari pun kita mesti berprinsip yang sama. So...what do you think about message? Do you agree?
Rafting!!!! Dengan siapa? Teman-teman..ada ikhwannya tidak? Tidak..Tidak ada?Kok tidak ada?harus hati-hati lho!!! Kan ada pemandunya pertanyaan ini selalu muncul ketika kami berencana rafting,..ya rafting, bersama teman-teman yang saling mengenal melalui jejaringan sosial. Tarhib Ramadhan dengan tema persiapan fisik di Sungai Elo, Magelang. Kami berangkat sebagai riders to river. Sempat kesasar, tapi dengan itu hikmah Alloh sehingga langsung silaturahmi ke rumah EO-nya, Mas Hadi.
Semua ada hikmahnya bila kita sedikit meluangkan waktu untuk memikirkannya. Sepanjang 13 km Sungai Eloyang kami susuri, sungguh luar biasa. Melalui sungai Alloh mengajari kami ; waspada di tiap keadaan, kerjasama yang baik berbuah manis, jangan terlena keindahan dunia, melatih kesabaran dari gangguan kru lain, bersyukur atas nikmat yang ada, siap menghadapi tantangan yang menghadang, dsb
Saya teringat seorang sahabat yang sedang sakit. “ Td sdh bisa sholat Jum’at? “.. sms ini saya kirim karena keingintahuan saya apakah sahabat saya ini sudah sembuh dari sakitnya, dan bagaimana rasanya ya jika tidak bisa ikut sholat jum’at karena sakit. Dalam pikiran saya apa ada ya jamaah yang ikut sholat jum’at sambil nenteng infuse?
Jam 16.17 WIB
Sms saya dibalas
“Pulang dari rumah sakit jam 11.10 menitan, jadi sempat jumatan. Begitu dengar suara Dzaky “aamiiin” yang keras di sampingku, serasa begitu indah hidup ini. Berkat doa semuanya, saya kembali sehat. Ini lagi main sambil mamahnya nyuapin Dzaky. Jazakumullah atas semuanya,” Membaca balasan sms beliau, saya ikut terharu, begitukah cinta ortu pada anaknya? Seperti bapak saya yang selalu menunda makan malam karena menunggu kepulangan anak2 perempuannya. (berarti anak2 perempuannya sering telat pulang J..), kemudian nasehat mengalir, “ nek bali ki dikiro2 sak durunge maghrib tekan ngomah” (kalo pulang tu dikira2 sebelum maghrib sampe rumah- red)..kasih ibu sepanjang jalan, kasih bapak sepanjang siang/malam…
Jam 16.20 WIB
“Subhanalloh, Alhamdulillah, Allohu Akbar! Smg antum berdua mjd ortu yg mensholehkn Dzaky & saling bersinergi dikala suka + duka”.. Saya kirim sms lagi, hanya itu yang bisa saya tuliskan,.
Jam 16.43 WIB
“iya, habis sholat dia melirik, terus saya cium dia. Dzaky bilang, bapa udah sembuh? Saya gak kuat meneteskan air mata dan bersujud, terakhir trombosit 92 rb, tensi 90/60, kena juga typoidnya, sobat, bersyukurlah, sehat itu mahal, ibadahpun tak sempurna tanpa sehat ya. Alhamdulillaahiobbil’aalamiin,”
Tercekat saya baca sms ini,.ada sesuatu yang mengalir dalam darah saya, naik menuju otak dan otak saya berpikir, seperti dalam sinetron saja kisahnya,
Saya berhenti mengirim sms lagi, karena tidak mampu memilih kata2 yang tepat.. sehat itu mahal, ibadah tak sempurna karenanya,. Iya betul begitu,. Taruhlah jempol kaki kita kesandung sampAI berdarah2 (hiperbola),. Dengan sakit seperti itu tidak mungkin kan kita sholat sambil duduk ato berbaring? Pas waktu sholat tiba pasti pilihan kita melaksanakan sholatnya ya seperti biasanya, bukan yang lain. Kalau itu pilihan kita, maka ketidaksempurnaan ibadah akan terasa ketika sujud juga duduk..Duh sakiiiiit dan susahnya mau memposisikan diri dengan sempurna..bisa jadi tidak konsen dengan bacaan tapi pada yang lain, apalagi khusyu’ sholatnya...(ini kalau saya)
Sebenarnya sakit itu banyak hikmahnya (versi saya), di antaranya ;
1.Pengampunan yang Alloh berikan sebagai ganti kesabaran dan pengharapan kita selama memperoleh ujian sakit,
2.Sakit itu nikmat tanpa kita sadari, nikmat pengampunan dosa, nikmat waktu untuk istiharat. Sakit menuntut kita untuk rehat dari aktivitas yang berjibun. Karena banyak tidur..
3.Jika masih mampu membaca, sebagian orang waktu sakit digunakan untuk menambah hafalan. Biasanya, ketika kita sakit kita bisa banyak berdzikir, biasanya lho…
4.Taubat ; ini saya sadari ketika menunggu adik saya yang sakit, saat itu banyak handai taulan yang menjenguk, mendoakan..terbersit dalam benak saya, ini adalah waktu yang tepat untuk saling minta maaf, baik untuk yang sakit maupun yang menengok. Indah bukan..bisa jadi kekhilafan itu dari si sakit atau juga pengunjung lho… momentum sakit untuk saling intropeksi diri, terutama penderita itu sendiri.
5.Saling memberi dan menerima.. tidak hanya memberi dan menerima maaf tapi lebih dalam dari itu. Yang sakit biasanya menerima perhatian yang sangat ekstra dari keluarga juga orang lain yang sakit mestinya juga sabar menerima perlakuan apapun dari orang lain, misal karena tidak bisa berjalan terus dibantu orang lain, ee..malah yang ngebantu bikin tambah sakit. Sebagai jalan memberi bantuan materi untuk meringankan biaya si sakit.
6.Makin dekat ke Alloh.. ini akan terlihat pada si sakit juga keluarga, mereka akan memohon pertolongan Alloh. Bahwa kita teramat lemah dan butuh pertolongan. Bahwa, Alloh-lah Penguasa Alam, bahwa kita berada di tangan-Nya....Jadi ingat pas adik saya kecelakaan 2 desember 2008. Singkat cerita,yang saya rasakan saat itu saya belum siap kehilangan, meski begitu saya serahkan semua pada Alloh. Informasi yang saya peroleh adik saya benar2 tidak sadarkan diri berjam2 hingga saya rekomendasikan ke adik saya yang satunya untuk mentalqin dia. Saya berusaha sms teman2 tuk minta bantuan doa, dan ternyata murobbi adik saya juga melakukan hal yang sama. Adik saya sadar berkat bantuan doa banyak orang. Allohu akbar!
7.Mempererat ukhuwah islamiyah..kebersamaan, persaudaraan begitu nyata dengan adanya doa dan silaturohmi sanak-saudara juga rekan-rekan seperjuangan.
8.Banyak bersyukur… jika karunia besar berupa kesembuhan Alloh anugerahkan, betapa bahagianya hidup. Dapat bersujud secara sempurna dalam sholat terasa begitu nikmat, apalagi dapat beraktivitas seperti biasa. Alhamdulillah, jika ketetapan Alloh selain itu maka kita peroleh pahala kesabaran dan pengharapan.
9.Dll.. masih banyak, silahkan digali sendiri ya…
Kita tidak tahu 1 detik ke depan kita bagaimana nasibnya, maka alangkah indahnya jika kita tiada menunda kewajiban2 kita. Misal; waktu sholat wajib tiba, hendaknya disegerakan, ada kelebihan rizki tak lupa sedekah, dll. Memang berat, tapi akan lebih baik jika kita terus memperbaiki kualitas diri
Hari Rabu tanggal 23 Desember yang lalu, adalah hari libur nasional di negeri ini. Kabarnya sih ini hari ultah sang kaisar. Wah..wah...ultah saja semua orang libur ya.... Namanya juga kaisar..;) (Kaisar lahirnya hampir berbarengan tanggalnya nih sama saya, tapi saya mah tidak biasa ultah-ultahan. Biasa saja....malah nelangsa rasanya …☺ lha wong jatah hidup berkurang tapi amalan tidak nambah juga. Pantesnya sih sedih ya...bukan senang-senang).
Kembali ke liburan tanggal 23 Desember, kami sekeluarga diundang makan siang oleh host family kami yang tinggal di Mikage. Perjalanan ke Mikage dari tempat tinggal kami di Myodani butuh waktu sekitar 1 jam. Ditempuh dengan jalan kaki, naik bis dan kereta. Setibanya kami di stasiun Mikage, kami dijemput oleh kakek Tomomatsu, untuk kemudian meluncur ke rumah beliau di daerah perbukitan.
Pemandangan menuju rumah keluarga Tomomatsu sangat indah, kita meliuk-liuk di jalanan yang tidak terlalu lebar, naik turun, dan di kejauhan tampak laut ada di bawah kita. Mirip daerah puncak di tanah air, tapi di sini tak ada kemacetan sama sekali meskipun hari libur. Akhirnya kami tiba di rumah asri dan mungil khas rumah-rumah Jepang pada umumnya.
Di pintu rumah kami disambut oleh ibu Tomomatsu dan puteri sulungnya, dengan ucapan selamat datang dan silakan, berulang-ulang, dalam bahasa Jepang. Sambil membungkukkan badan tentunya.Mereka juga sampai berjongkok-jongkok memakaikan kami sandal untuk di dalam rumah. Wah, jadi nda enak hati, sedemikian melayani tamu. Mantel dingin kami pun mereka bantu melepas dan menggantungnya di salah satu sudut ruangan.
Kami langsung digiring menuju ruang makan di mana aneka hidangan sudah menunggu kami. Keluarga Tomomatsu sudah beberapa kali menjadi host family bagi mahasiswa asing muslim. Mereka sudah faham kriteria makanan halal untuk kami. Sebelum mulai makan mereka menyebutkan semua bahan-bahan yang mereka pakai untuk memasak makanan. Alhamdulillah semua aman.
Setelah acara makan-makan selesai, kami berbincang-bincang akrab, masih di ruang makan. Kami serahkan bingkisan sederhana oleh-oleh dari Jogja. Mereka terlihat sangat senang. Selama berbincang dengan mereka beberapa kali Ali dan Ammar bolak balik ke toilet untuk pipis, dan kebetulan yang mengantar mereka selalu abinya, karena posisinya lebih dekat ke arah toilet. Nah, di sinilah sebenarnya inti tulisan saya kali ini (he..he.. prolognya kepanjangan ya....). Ternyata mereka sangat terkejut karena beberapa kali anak-anak ke toilet selalu yang mengantar adalah ayahnya.
Ibu Tomomatsu langsung bertanya heran kepada saya, "Laki-laki Indonesia bisa mengurus anak?".
"Oh, ya..." saya yang sedang asyik berbincang dengan putri sulungnya agak tergagap menjawab, karena tidak mengira hal kecil seperti itu jadi perhatian mereka. "Oooh...mereka ikut mengurus rumah juga?" tanya sang ibu lagi.
"Di rumah kami biasa berbagi tugas. Kadang saya memasak, dia yang mencuci baju. Lain waktu dia yang memasak, saya yang mencuci baju. Juga urusan rumah tangga yang lain, kita biasa urus bersama. Mengurus anak juga bersama." Saya coba menjelaskan.
"Aaah...bagus sekali ya....Kalo laki-laki Jepang aaah....tidak tahu apa-apa urusan rumah..." Ibu Tomomatsu berkata dengan suara geram yang dibuat lucu ☺
Di sebelahnya sang putri sulung yang juga sudah berkeluarga, mengangguk-angguk penuh semangat membenarkan perkataan ibunya. Rupanya ia bernasib sama ☺
Kakek Tomomatsu hanya senyum-senyum saja mendengar cerita, tepatnya "keluhan", isteri dan putri sulungnya.
Hmm...dalam hati saya berkata, sebenarnya tidak semua laki-laki Indonesia seperti itu. Masih banyak juga yang kurang peduli dengan urusan rumah. Jangankan ikut membantu memasak atau mencuci, kadang sekedar membantu menyuapi si kecil saja mereka enggan. Saya termasuk perempuan yang harus banyak bersyukur karena dikaruniai pendamping hidup yang sangat peduli dengan urusan rumah dan enak sekali diajak bekerja sama mengurus semuanya.
Dan saya yakin juga tak semua lelaki Jepang seperti itu. Pasti ada di antara mereka yang peduli dengan urusan rumah tangga. Tapi mungkin karena kebanyakan seperti itu, maka menjadi semacam trade mark. Semua kembali kepada pribadi masing-masing, ingin menjadi lelaki seperti apakah mereka. Latar belakang dan pola didik keluarga yang membesarkan mereka pun bisa jadi akan membentuk karakter para lelaki, meskipun sebenarnya setelah dewasa semua bisa saja dilatih dan dibiasakan.
Semoga saja para laki-laki Indonesia dan juga laki-laki mana pun akan semakin peka dan ikut peduli dengan urusan rumah tangga, yang katanya merupakan biduk kehidupan yang dikayuh bersama sang isteri tercinta Tak perlu ada yang merasa lebih capek dan lebih berat beban kerjanya sehari-hari dibandingkan pasangannya.
Seorang isteri dan ibu yang sehari-hari berkutat dengan urusan rumah dan anak, meski tak ada job description yang jelas hitam di atas putih, namun mereka pun tak kalah sibuknya dengan pegawai kantoran. Ada saja yang harus dikerjakan di rumah, seolah tak ada habisnya. (Sst..tapi untuk para isteri juga jangan banyak menuntut yah....kasian…;)). Semua perlu kesadaran masing-masing saja. Jika masing-masing pasangan sudah sadar sesadar-sadarnya ☺ insya Allah hidup jadi lebih indah. Tak perlu ada saling menuntut, dan juga tak ada yang merasa diabaikan.
Oh iya, untuk para ibu yang diamanahi anak laki-laki (saya mengingatkan diri sendiri sebenarnya ☺), harus berhati-hati dalam menerapkan pola didik pada para jagoan kita. Yuk kita didik lelaki-lelaki kita agar kelak mereka menjadi laki-laki yang benar-benar dicintai dan mampu membahagiakan pasangan hidup mereka. Jangan lupa urusan rumah tangga bukan hal yang tabu untuk kita ajarkan pada mereka.
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya yaitu orang yang paling baik budi pekertinya di antara mereka. Dan orang yang paling baik di antara kamu sekalian yaitu orang yang paling baik terhadap isterinya." (H.R. At Turmudzy)
Sedikit tambahan lagi, sekedar untuk renungan bagi para suami, setiap perbuatan baik selama hidup di dunia insya Allah akan menjadi investasi sangat berharga yang akan kita rasakan hasilnya di akhirat kelak. Akhlak yang baik dan menakjubkan dari seorang laki-laki pada keluarganya akan menggoreskan kenangan yang indah di hati isteri dan anak-anaknya. Bahkan akan terus terkenang meskipun sang laki-laki telah tiada.
Kenangan indah inilah yang akan menggerakkan hati dan lisan orang-orang yang dicintai dan mencintainya, mengalirkan sebentuk do’a, untuk keselamatan dan kebahagiaan sang lelaki di negeri akhirat, di mana tak ada lagi amal yang dapat ia perbuat untuk menjadi bekal perjalanan maha panjang menemui Rabb nya. Yakinlah, lantunan do’a-do’a ini kelak akan sangat kita butuhkan di sana.
Jalan godean km 7,5 Yogyakarta mule aku masuki sebagai rutinitas sehari-hari. Menyusuri jalan raya dengan sepeda motor menyulitkanku untuk mengamati sekeliling. Konsentrasi lebih fokus pada sela kendaraan yang memungkinkan untuk aku tempati. Selalu begitu...jadi susah menghapal nama jalan yang aku lewati , fasilitas di jalan itu apa saja. kamu gimana kalau naik motor?
Peduli ga sih dengan orang yang lalu lalang didekat kita? Aku mana sempat? Yang ada keinginanku untuk selamat sampai tujuan. Kali ini lain....radius 1 km berjalan aku ga perhatiin. Lampu merah perempatan ring road Demak Ijo, diantara deretan kendaraan aku terpaku pada motor didepanku. Suara motornya lebih nyaring daripada motor lain. Dua orang berboncengan pria wanita. Dijok belakang wanita itu terdapat dua keranjang kanan-kiri berisi bungkusan makanan dengan daun pisang dan beberapa bungkusan dengan kertas. Mungkin arem-arem, bisikku dalam hati. Bungkusan yang lainnya seperti bungkusan “nasi kucing” yang biasa aku beli kalau malam hari . Apa mereka penjual angkringan ya?pikirku.. romantic aku menekuni lampu merah lagi tapi kembali aku melihat mereka karena ada pengendara lain yang menyapa mereka. Tidak jelas yang mereka bicarakan diantara suara-suara kendaraan dan tidak ada niatan pula olehku untuk menguping. Yang aku tahu pria itu berkaos biru laut, bertato, celana selutut, wanita pakai baju bunga-bunga belatar hitam dengan celana selutut.
Lampu berganti hijau sebagai aba-aba start balap dimulai selalu begitu, berebut untuk lebih dulu. Emm..lebih cepat lebih baik atau biar cepat asal selamat. Sadar tidak sadar pola ini juga aku ikuti. Motor yang suaranya nyaring tadi? Ada di depanku. Bukannya ingin saling mendahului, tapi memang aku ada peluang untuk lebih dulu. Sengaja tak sengaja aku melirik spionku. Allohu Akbar! Apa aku tidak salah lihat ya? Ini orang pemilik motor nyaring bertangan satu! Kanan saja!aku benar-benar tidak percaya. Aku pastikan lagi dengan memposisikan di depannya. Oh my God! Inilah kuasa-Mu.
Aku berusaha terus melajukan motorku agar tidak persis didepannya. Tidak enak kalau ketahuan menyengaja, dan kebetulan jalanan agak longgar. Hingga lampu merah lagi, posisiku tetap di depannya. Dan hukum peluang berlaku untuk berjalan lebih dulu sampai akhirnya aku terus di depan hingga berakhir perjalananku tanpa tahu akhir perjalanan mereka.(tidak harus kan?)
Perjuangan untuk tetap bertahan hidup setiap orang pastilah berbeda. Apa pun latar belakang pria bertangan satu itu, aktivitasnya yang terus berjalan memotivasiku. Semangat untuk menghidupi diri dan keluarga, tanpa harus bergantung pada orang lain, percaya dirinya, kasih sayang pada pasangannya(bisa saja dia tidak mengantar wanita itu, suruh berangkat sendiri dengan motor atau tidak. Nah kalau tidak bisa mengendarai motor? Naik bus dong..tapi toh pria itu tidak melakukannya kan?luar biasa). Pria itu tetap bekerja, naik motor dan entah apa lagi yang dilakukannya, aku tidak tahu. Alloh memang memberi kita pilihan-pilihan. Dan setiap pilihan yang kita ambil itu pasti ada resiko, ada hikmah, ada pertolongan-Nya, ada kasih sayang-Nya. Mari kita terus belajar pada rumput yang bergoyang..eh..belajar pada semua yang ada disekitar kita
Mustika Lutfi Mustika Lutfi dalam episode kehidupannya mencoba belajar untuk lebih benar, lebih santun, lebih berdaya, lebih bermakna...Belajar menjadi diri yang Luar Biasa. Belajar dan terus belajar, "Learning from the future" :) belajar menjadi anak yang sholehah sebagai kewajiban, belajar menjadi istri sholehah sebagai cita-cita :)